Laman

Jumat, 30 Desember 2011

Teriknya Hati

Panas menyengat
Menjadi alunan nada, klakson dan gendruman kendaraan itu
Duduk dipojokan
Kelihatan seperti orang jalanan,
Yang lusuh, kucel, dan keringat. Percis
Batu mulia itu memantulkan cahaya matahari
Ya aku melihatnya. Cantik sekali
Kerlap kerlip silau namun indah dipandang
Ya aku melihatnya,
Terdapat merah muda, putih, biru
Dan yang sering kulihat adalah hijau,
Menjadikan panas ini hilang rasanya,
Namun tunggu. Disini aku sedang menunggu,
Sejenak, kuberfikir membuat untaian kata
Dijalanan, ya dijalanan.
Mulai membuka berandanya,
Ah tidak ada yang menjadi pusatan mata,
Ingin meninggalkan tapi entah..
Kuurungkan niat setelah melihat kejanggalan, hawa panas mulai merebak,
Kenapa? Kenapa ku dibedakan!
Terik yang panas menyentuh kulit
Rasanya inginkan lari dan ta’ mau kembali
Entahlah..
Kubiarkan, sampai ia menyadarinya.
*30 desember 2011

3 komentar:

  1. Subhanallah, pusinya indah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masya Allah, syukraan akhi udah dicomet artikel ana :) senang rasanya ada yang mau baca, inshAllah ana sering" posting lagi deh, syukraan ya

      Hapus