Laman

Tampilkan postingan dengan label puisi berharga karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi berharga karya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Desember 2011

Teriknya Hati

Panas menyengat
Menjadi alunan nada, klakson dan gendruman kendaraan itu
Duduk dipojokan
Kelihatan seperti orang jalanan,
Yang lusuh, kucel, dan keringat. Percis
Batu mulia itu memantulkan cahaya matahari
Ya aku melihatnya. Cantik sekali
Kerlap kerlip silau namun indah dipandang
Ya aku melihatnya,
Terdapat merah muda, putih, biru
Dan yang sering kulihat adalah hijau,
Menjadikan panas ini hilang rasanya,
Namun tunggu. Disini aku sedang menunggu,
Sejenak, kuberfikir membuat untaian kata
Dijalanan, ya dijalanan.
Mulai membuka berandanya,
Ah tidak ada yang menjadi pusatan mata,
Ingin meninggalkan tapi entah..
Kuurungkan niat setelah melihat kejanggalan, hawa panas mulai merebak,
Kenapa? Kenapa ku dibedakan!
Terik yang panas menyentuh kulit
Rasanya inginkan lari dan ta’ mau kembali
Entahlah..
Kubiarkan, sampai ia menyadarinya.
*30 desember 2011

Sabtu, 19 November 2011

friday nov 18th 2011

friday nov 18th 2011
Siang ini rasanya lelah sekali
Hingga inginkan rebah tubuhku
Ingin dapatkan kembali tegak tulang punggungku
Lantunan syaikh tercinta mengiringi mimpiku
5, 10, 25 menit berlalu...
Jam klasik yang slalu menemaniku
01.05 a.m itu tertuju padaku
Segar rasanya walalu terkantuk- kantuk
Butiran air yang masih merekat diwajahku
Kalam Allah itu ke pegang erat seolah ta` mau terlepas
1, 2, 3 anak tangga ku lalui...
Sepi...
Seperti berada dikoridor yang ta` ber-ujung dan sendiri
Ada yang asing, yang membuat mata tercengang
Subhanallah, rapi, bersih terpancar harapan mimpi
Tidak ada timbal balik..
Ta` mengapa, cukup senang rasanya
Lupakan! Dan mulai melangkah
Refleks, ya itu yang kurasa
berbalik dan... masya Allah
Cukup membuat diri ini menatap kekosongan sejenak
Masya Allah sapai saat ini
Terus terbayang lintangan garis merah merona yang membuat mimpi panjang sebuah harapan.

Robbi hamba ta` sampai disini memohon kepadaMu, mudahkanlah urusanku, Robbi, allahumma shalii wassalim`alla nabiyinna muhammad. Aamiin

Selasa, 08 Maret 2011

Mawar kehidupan


Mawar indah berseri

Menikmati hari mati

Oh indah sejuk permai

Melihat kau duduk termenung sendiri

Melintas dalam otakku kau kasihi

Kabut biru dalam mataku

Melihat kau dalam bayang semu

Sederet mawar dihadapanku

Melihat kau hatiku pilu

Kelopak merahmu melintang dalam lantunan cinta

Duri tajammu melingkar bagai asa

Daun berguguran, rasa sayup didepan mata

Hatiku perih saat kau bang muka

_suharti hikmayani (ummu asiah)-

10 mei 2010

Selasa, 04 Januari 2011

Jeritan Hatiku

Kehidupanku…

Memilki sebuah tujuan
Mempunyai sebuah arti

Diriku mempunyai rasa
Untuk merasakanroda hidup yang berputar
Diriku mempunyai arti
Untuk menanti…menanti sebuah jawaban…

Akan ku rangkai beribu bunga…
Akan kulukis ratusan bingkai
Tapi, tak akan bisa aku mengobati
Rasa sakit…
Yang menjerit di hatiku…

Rasa sakit yang perih dan menggores hatiku…
Tak akan bisa mengayun- ngayunkan
Tak akan bisa melambai- lambaikan
Berlian yang sudah pupus…
Yang sudah jauh terbawa ombak…

Kini, hanya bisa kusesali
Semua rasa sakit ini
Bergeming, menggetar di telingaku
Merubah raut wajahku
Jeritan hatiku akan ku lepaskan
Seperti debu yang tak akan
Kembali ke genggamanku…



My Brother...

-Muhammad Hilman Makmur-
-11 April 2010-