Laman

Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 September 2012

tafsir tematik albaqoroh: 260

Assalamu’alaikum J first time saya nih berbagi sedikit ilmu dr kajian di sekolah, saya bagikan ringkasannya saja ya (he he diambil dari catatan saya, berupa poin_poin) *maaf sebelumnya jika kurang jelas.. monggo di simak

Rabu, 19 September 2012
Pemateri             : Ust Abu Yahya Purwanto, S. Si
Pembahasan      : Tafsir al- Qur’an (al- baqoroh 1: 260)
Tempat                : Masjid Abu Bakar (sd it al- amanah, Lembang)

Bismillahirrahmannirrahiim

al- baqoroh 1: 260
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati”. Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing- masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.“ Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.”

ü Inti utama dari ayat diatas adalah, melihatkan  kebesaran Allah akan menghidupkan yang mati.
ü Ini dalil kuat bahwa Allah Maha menghidupkan orang/ segala yang mati.
ü Orang yang Allah cintai (khalil= yang paling dicintai dan tidak ada duanya, namun jika Allah berhak atas berapapun), yaitu Ibrahim meminta agar Allah menghidupkan orang mati dengan matanya sendiri, padahal beliau telah meyakini khobar (kabar) tentang hal itu. (untuk meyakinkan)
-          Haqul yakin, tidak melihat dan mendengar tapi tetap percaya, itulah kita sebagai hamba Allah.
ü Dan Allah bertanya kepadanya apakah anda belum percaya? Lalu Ibrohim menjawab: “Aku percaya, tetapi agar hatiku mantap!”
-          Dalam Qur‘an surat Muhammad 47: 17
Dan orang- orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketaqwaan mereka
Apabila kalian mengenal/ mengetahui ilmu (walau sedikit), lalu kalian mengamalkannya, niscaya Allah akan menambah hidayahmu”
Dan sebaliknya yang tertera pada Qur’an surat Al- Baqoroh 1: 10
Dalam hati mereka ada penyakit (penyakit hati misalnya ragu dan tidak yakin akan kebenaran, munafik, dan tidak beriman), lalu Allah menambah penyakitnya itu, dan mereka mendapat adzab yang pedih, karena mereka berdusta”
ü Dan Dia (Allah) berfirman: “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing- masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.“
-          Dalam Qur‘an surat Qof 50: 4
“Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang ditelan bumi dari (tubuh) mereka, sebab pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara baik.”
Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengetahui setiap molekul- molekul dalam diri kita yang apabila telah terpecah belah (didalam tanah, jika kita sudah berbaring dlam tanah)
-          Ada sebuah hadits yang berbunyi : “Ada seorang yang sangat takut kepada Allah, sehingga ia berpesan jikalau aku mati bakarlah jasadku, dan taburkanlah serbuk jasadku kemana saja, karna aku takut oleh hisab-an Allah, dan takut kalau aku akan dihidupkanNya lagi. Pada akhirnya Allah mengampuni ketidak tahuannya. Kenapa? Karena rasa takutnya. Namun kita jangan mencontohnya kembali, cukup itulah sebagai pelajaran.
ü Ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Qur’an, surat Luqman 31: 20 berbunyi,
“ Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada dilangit dan apa yang ada dibumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi diantara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa kitab yang member penerangan.”
-          Ayat diatas menjelaskan bahwa tidak ada makhluk lain untuk mengambil alih bumi, padahal pada surat ini Allah menekankan bahwa semua (langit dan bumi) hanya untuk kita, manusia.
-          Loh berarti bagaimana tentang keberadaan alien? UFO? Dan kawan- kawan?
Menurut yang pernah saya tau dari Dr. Sulaiman Al- Anshari dalam bukunya.. (maaf lupa apa nama bukunya, berbahasa arab sih) berbunyi
“Apabila banyak orang yang melihat sesuatu (alien, UFO, kuntil anak, tuyul...) tetapi susah untuk dibuktikan secara ilmiyah, itu berarti termasuk kalangan jin atau kehidupan jin/ alam ghaib” ...


_wawllahu ‘alam bishowab_
Penutup, mohon maaf bila banyak kesalahan krn itu datang dari saya sendiri.
Sebelumnya terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini, insya Allah saya akan rutin membagi ringkasan (catatan saya) kajian, J

Sabtu, 08 Oktober 2011

Tentang Stress (Qoliq)

Assalamu’alaikum, malam yang dingin menusuk nadiku ini bertanggalkan 07 bulan Juni tahun 2011, ya, sehari sesudah dimana sy berkurang jatah waktu hidup sy di dunia ini. *

*06 Juni 1996 pada saat itu sy pertamakali membuka mata dan menulis lembaran baru hidup saya.Mencoba menjadi puitisi. Jarang- jarang sy berbagi cerita, insyAllah ada hikmahnya.

Jam 20.—(sekian) sy dan shodiqoty (temanku) menuju sekolah untuk les bahasa arab, hmm suasananya gelap, sunyi, sepi, seperti kota mati, yah begitulah kehidupan kota ini (kota? Sy rasa ini desa bukan kota). Tempat dimana dikelilingi oleh gunung- gunung walau ta’ setinggi gunung everets akan tetapi cukup membuat desa ini nyaman, sejuk dan dingin sekali. (sy bangga dapat merasakan lingkungan sekolah seperti ini).

Sebelumnya ada yang membuat sy ganjil ternyata kata “qoliq” (stres) menghampiri sy walau tdk diundang, biasa (mengeluh) kehidupan asrama begini jadinya. Tapi jangan menilai miring tentang “asrama”, sy berfikir/ menurut sy kehidupan asrama ini adalah yang membimbing kita untuk belajar dewasa, ya itulah yang sy rasakan. Dengan berbagai masalah yang menghadang, masalah itu secara tidak langsung akan membuat kita menjadi dewasa.

Sampailah kita di sekolah, menunggu guru yang akan mengisi kesenyapan yang ada, alhamdulillah guru itu datang.

“assalamu’alaikum.. loh kalian masih disini? Kan ust sudah kasih tau tadi” (ust, itulah panggilan untuk guru- guru kami)

“Wa’alaikum salam.. ah-ya? Jadi sekarang kita tidak ada les untuk malam ini?” (sepertinya yang dititipkan amanah tersebut lupa, ah-ya lupakan kan tanggung sudah di sekolah)

“iya, eh Kaefa haluk ya hikma?” (biasanya ust mengetes kita bagaimanapun suasananya)

“hmm, InsyAllah bikhoir, ah-ya qoliqoh stadz” (sekalian mencoba untuk menerapkan bahasa arab dan menjawab su’al ) “ah-ya ust ana baru ingat, tadi pagi sy dapat ilmu baru tentang qoliq (stres) ternyata itu berbahaya loh..” (biasa kita sering sharing tentang apapun, tapi ada batasannya juga)

“loh ust fikir itu tidak, coba beri tahu apa itu?” (dengan penasarannya)

“begini.. ternyata apabila keadaan kita stress detak jantung kita berubah, yang pada awalnya normal menjadi abnormal (ih serem bahasanya abnormal), ya detak jantung kita menjadi cepat (coba kalian tes sendiri bagaimana detak jantung kalian pada saat normal, sedih, senang, marah, stress, dan lain- lain. –itu adalah saran ust yang mengajar kami bahasa arab-). Benar- benar beda dengan yang biasa- biasanya ternyata seluruh tubuh kita mendapatkan respon dari otak kita yang terkena virus –error error stress error- (intermezo ya, itulah sy). Nah yang pada awalnya Allah telah memogram detak jantung kita sekian (dengan keadaan normal) sedangkan tugas jantungkan memompakan darah keseluruh tubuh, dengan adanya virus tersebut–error error stress error- detak jantung akan menambah kewajiban kerjanya yang lebih extra dari pada yang sebelumnya, dan itulah musykillahnya (masalahnya) jantung akan memompakan darah berlebih kemana saja terutama pada otang kita, dan jika otak kita sudah mengeluarkan sirine –otak, full darah- itu bahaya akibatnya darah itu akan mengendap dan bisa mengakibatkan kanker” (panjang sudah ceritanya, kurang lebih begitu, jika kurang tambahin sendiri) eh wawllahu’alam, antum ‘alamu minni (Kalian lebih tau daripada sy)

“wah mumtazzah (hebat, kalo kita mah seratus), tapi apa kalian tau apa obat untuk semua itu? Itu kita bisa cegah dengan cara tersebut, hayo apa kalian tahu?”

(lenggang suasana kembali terasa, sunyi, ingin menjawabnya tapi takut salah)

“kalian bawa mushaf? Yo kalian coba buka surat ar-Ra’d, kalo ga salah (loh? Ust ini ya..), iya ar-Ra’d ayat 28” (dengan pasti)

(sy sibuk mencari dan membaca terjemahnya)

“(yaitu) orang- orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” Ar-ra’d ayat 28

(sy langsung membalikkan badan, dan berkata “Ya Allah, Ighfirli (Ampuni sy). Perasaan takjub yang membuat sy menjadi ringan tanpa beban, seperti memiliki kelezatan tersendiri ketika mengingat Allah. Subhanallah)

“(tersenyum) apakah kalian tahu kisah nabi Ayub ketika terserang pengakit kulit, atau kisah nabi Zakaria yang berserah diri kepada Allah karena tidak dikaruniai seorang anak?. Mereka berserah diri dengan memanjatkan doa dengan ikhlas meminta kepada Allah, dan kalian bisa gunakan juga hati kalian gundah, tidak dikaruniai anak, yok kita buka al- anbiya’ (hmm) kalau itu mushaf standar madinah, buka lembar ketiga”

(serius mencari)

“nah ketemu, dan sy baca…

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Yuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (do’a)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Akmi, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami. Al-anbiya’ 83-84. Dan (ingatlah kisah) Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seotang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris terbaik.

“that is amazing.. subhanallah syukron ust, ternyata kita ta’ perlu mencari- cari kemana- mana ya, di al-qur’an juga sudah siap sedia jawaban kita. Ya ust syukron jazeelan. Kita mau pamit sudah malam, assalamu’alaikum..”

Nah loh bisa diambilkan hikmahnya?

Syukron sudah mau mampir tunggu cerita selanjutnya.

Kamis, 01 September 2011

DIALOG IMAM ABU HANIFAH

Imam Abu Hanifah pernah bercerita : "Ada seorang ilmuwan besar dari kalangan bangsa Romawi, tapi ia orang kafir. Ulama-ulama Islam membiarkan saja, kecuali seorang, yaitu Hammad guru Abu Hanifah, oleh karena itu dia segan bila bertemu dengannya.

Pada hari kedua, manusia berkumpul di masjid, orang kafir itu naik mimbar dan mau mengadakan tukar pikiran dengan siapa saja, dia hendak menyerang ulama-ulama Islam. Di antara shof-shof masjid bangun seorang laki-laki muda, dialah Abu Hanifah, dan ketika sudah berada dekat depan mimbar, dia berkata :

"Inilah saya, hendak tukar pikiran dengan tuan".

Mata Abu Hanifah berusaha untuk menguasai suasana, namun dia tetap merendahkan diri karena mudanya.

Namun dia pun angkat bicara :"Katakan pendapat tuan!".

Ilmuwan kafir itu heran akan keberanian Abu Hanifah, lalu bertanya :"Masuk akalkah bila dikatakan bahwa ada pertama yang tidak apa-apanya sebelumnya?".

"Benar, tahukah tuan tentang hitungan?", tanya Abu Hanifah.

"Ya".

"Apa itu sebelum angka satu?".

"Ia adalah pertama, dan yang paling pertama. Tak ada angka lain sebelum angka satu", jawab sang kafir itu.

"Demikian pula Allah Swt".

"Di mana Dia sekarang? Sesuatu yang ada mesti ada tempatnya", tanya si kafir tersebut.

"Tahukah tuan bagaimana bentuk susu?".

"Ya".

"Adakah di dalam susu itu keju?".

"Ya".

"Di mana, di sebelah mana tempatnya keju itu sekarang?", tanya Abu Hanifah.

"Tak ada tempat yang khusus. Keju itu menyeluruh meliputi dan bercampur dengan susu!", jawab ilmuwan kafir itu.

"Begitu pulalah Allah, tidak bertempat dan tidak ditempatkan", jelas Abu Hanifah.

"Ke arah manakah Allah sekarang menghadap? Sebab segala sesuatu pasti punya arah?", tanya orang kafir itu.

"Jika tuan menyalakan lampu, ke arah manakah sinar lampu itu menghadap?", tanya Abu Hanifah.

"Sinarnya menghadap ke semua arah".

"Begitu pulalah Allah Pencipta langit dan bumi".

"Ya! Apa yang sedang Allah kerjakan sekarang?".

"Tuan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dari atas mimbar, sedangkan saya menjawabnya dari atas lantai. Maka untuk menjawab pertanyaan tuan, saya mohon tuan turun dari atas mimbar dan saya akan menjawabnya di tempat tuan", pinta Abu Hanifah.

Ilmuwan kafir itu turun dari mimbarnya, dan Abu Hanifah naik di atas.

"Baiklah, sekarang saya akan menjawab pertanyaan tuan. Tuan bertanya apa pekerjaan Allah sekarang?".

Ilmuwan kafir mengangguk.

"Pekerjaan-Nya sekarang, ialah bahwa apabila di atas mimbar sedang berdiri seorang kafir seperti tuan, Dia akan menurunkannya seperti sekarang, sedangkan apabila ada seorang mu`min di lantai, dengan segera itu pula Dia akan mengangkatnya ke atas mimbar, demikian pekerjaan Allah setiap waktu".

Para hadirin puas dan begitu pula orang kafir itu.

Senin, 29 Agustus 2011

dialog dengan penghuni kubur

Bismillahirrahmanirrahim……
Dgn menyebut nama Allah Yg Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
..•*´`*•.♥♥.•*´`'•.¸*¤* ¸.•'´´*•.♥♥.•*´`*•.
Pada satu kesempatan, Nabi Isa a.s. pernah menjumpai seonggok tengkorak di tengah jalan yang jauh di luar pemukiman manusia. Kemudian beliau berdo’a kepada Allah SWT agar tengkorak itu dapat berbicara sehingga ia dapat melakukan dialog dengannya. Tengkorak itu adalah bekas seorang raja yang bernama raja Jumjumah.


Atas takdir Allah, tiba-tiba tedengar dari mulut kepala tengkorak itu suara, katanya, "Ya Nabi Isa, telah diperintahkan oleh Allah terhadap tengkorang kering ini agar dapat berkata kata denganmu, maka tanyailah apa-apa yang engkau kehendaki. Salam Allah Ta’ala kepadamu, ya Nabi Isa Ruhullah."


Nabi Isa berkata, "Hai tengkorak yang kering, kulit pun tidak ada padamu, maka apa-apa yang kutanyakan kepadamu, jawablah hai tengkorak yang kering."


Ujar sang tengkorak. "Tanyakanlah tuan apa-apa yang dikehendaki hati tuan; dengan takdir Allah hamba akan menjawab segala pertanyaan tuan."


Mulailah pertanyaan-pertanyaan dari Nabi Isa diajukan kepada tengkorak itu,


"Hai tengkorak yang kering, laki-laki atau perempuankah engkau, merdekakah, ataukah seorang budak; Islam atau kafirkah engkau; berbahagia atau sengsarakah engkau; mulia atau hinakah engkau, kaya atau miskinkah engkau, engkau pemurah atau kikirkah; raja atau menteri?"


Tengkorak kering itu pun menyahut, "Ya Nabi Isa ruhullah, hamba laki-laki bukan seorang perempuan; dan hamba ini merdeka bukan budak, dan hamba orang Islam bukan seorang kafir, dan hamba orang mulia, bukan orang hina, dan hamba orang celaka bukan orang bahagia di akhirat; hamba orang kaya, bukan orang miskin, dan hamba seorang pemurah bukan orang kikir, dan hamba seorang baik, bukan seorang jahat, dan hamba seorang tua, bukan anak muda; dan hamba berasal dari seorang raja, bukan seorang menteri”.


“Dahulu, ya Nabi Isa Ruhullah, rupa hamba sangat baik dan juga sangat menakjubkan lagi elok rupanya dari seluruh rupa. Sangat gemilang bercahaya. Demikianlah keindahan paras hamba, jika siapa pun melihat melihat rupa hamba, pastilah ia heran dan tercengang dengan postur tubuh hamba yang gagah. Ketahuilah bahwa hambalah yang pemurah di daratan Mesir dan Syam.


“Dahulu kerajaan hamba sangat besar. Pada waktu hamba hendak pergi berangkat atau bertamasya pergi berburu, mungkin berjumlah enam belas ribu budak pengiring. Belum termasuk hulubalang, menteri-menteri, tentara-tentaranya. Sedangkan rakyat hamba tidak terhitung jumlahnya, melainkan Allah SWT dan Rasul-Nya juga yang mengetahuinya. Gajah, kuda, dan unta hamba tidak terhitung banyaknya pula. Enam belas ribu budak hamba diberi pakaian yang beraneka ragam. Empat ribu orang mengenakan pakaian seragam yang berwarna kuning. Empat ribu lainnya memakai seragam berwarna merah. Empat ribu lainnya memakai seragam hijau. Pada pakaian mereka dikenakan emas, perak, dan kumuda. Emas yang bertahtakan mutu manikam. Ada pula hiasan burung rajawali dan burung merak. Di mana bulunya tersusun dari emas. Empat ribu orangnya memegang senjata dari emas”.


“Di sebelah kanan seribu orang memegang pedang emas. Di sebelah kiri seribu orang memegang keris. Di bagian belakang hamba memegang tombak. Empat ribu orang mengendarai kuda sembrani Di sebelah kanan hamba seribu orang penunggang kuda yang berseragam hijau. Di sebelah kiri penunggang kuda berwarna. Di hadapan hamba kuda yang berseragam putih. Para penunggang kuda tersebut mengenakan pakaian berwarna emas dan memegang senjata kerajaan, ya Nabi Isa Ruhullah. Adapun tentara dan rakyat hamba itu tidak terhitung banyaknya, melainkan Allah dan Rasul- Nya yang mengetahui”.


“Demikianlah kebesaran kerajaan hamba, ya Nabi Isa Ruhullah. Tidak seorang pun dari raja-raja melakukan perlawanan terhadap hamba. Dan tidak pula kerajaan-kerajannya menyamai kerajaan hamba dan kebesaran hamba. Dahulu, seluruh raja pada jaman hamba berada di bawah kekuasaan hamba, serta mereka diwajibkan memberi upeti kepada hamba. Dahulu, tiga puluh ribu unta di bawah kekuasaanku. Gajah, unta, dan kuda tidak terhitung jumlahnya."


Ujar Nabi Isa , "Hai Raja Jumjumah, berapa lama tuan tinggal dalam kerajaan tuan?"


Raja Jumjumah menyahut, "Ya Nabi Isa Ruhullah, empat ratus tahun lamanya berada dalam kerajaan hamba, ya Nabi Isa Ruhullah. Dengan dermawan hamba dalam sehari semalam hamba (pernah) memberikan sedekah sebesar sejuta dinar dan dirham kepada fakir miskin dan musafir. Pada waktu dahulu, setiap hari hamba memberikan pakaian kepada para alim. Demikianlah perihal perbuatan hamba di dunia senantiasa dilakukan”.


"Dahulu, seluruh mesjid dan mushola yang berada di daratan Mesir dan Syam yang perlu diperbaiki akan hamba perintahkan untuk diperbaiki. Demikianlah perihal dari perbuatan hamba di dunia. Akan tetapi Allah Ta’ala Tuhan semesta alam juga yang tidak disembah selain dari-Nya, hanya Dialah yang memberikan harta pada, hamba-Nya."


Nabi Isa bertanya lagi, "Hai Raja Jumjumah, bagaimana engkau merasakan kekurangan di dunia, dan bagaimana engkau merasakan sakaratul maut, dan bagaimana rasanya minum pada saat sakaratul maut, dan bagaimana merasakannya saat berada di dalam kubur?"


Raja Jumjumah pun menjawab, "Ya Nabi Isa Ruhullah, amat ajaib dan sangat sukar dan menyakitkan atas seluruh hal yang tuan tanyakan kepada hamba. Sekarang hamba akan ceritakan kepada tuan mengenai kematian hamba”.


"Pada satu kesempatan, hamba pergi mandi ke sungai Alhamd dengan seluruh hulubalang, menteri-menteri, tentara-tentara, dan sebagian rakyat hamba turut serta mengiringi. Setelah mandi, hamba naik ke darat, kemudian duduk di tepi sungai itu. Hamba pun merasakan kedinginan pada tubuh seperti hendak demam. Hamba segera pulang ke istana Para pengiring hamba pun terlihat berduka atas keadaan yang dialami hamba”.


“Setelah tiba di istana, hamba berbaring di atas permadani yang bersipuhkan emas dan bertahtakan ratna mutu manikam. Kata hamba kepada seluruh menteri dan para budak: ’Hai kalian, pergilah kepada tabib yang telah mengobati aku, karena selama empat hari demam masih dirasa’, dan aku pun menghentikannya atas penyakitku ini”.


"Kemudian datanglah orang yang akan mengobati. Namun pengobatannya dirasakan tidak memberi manfaat. Hingga selama lima hari demam hamba semakin terasa. Lalu hati hamba berkata, Wah badanku, akan berpisahlah nyawa dan badan, seperti seorang yang sangat mengasihi seorang yang lainnya. Kemudian berpisahlah keduanya, rasanya adalah bagaikan kehilangan kesadaran, dan terbakarlah hati keduanya. Dan apa pun yang dilakukan, bagi hamba tidak akan menjadikan penghibur, karena sangat cintanya kepada sang kekasih dan selalu teringat terhadap perpisahannya tersebut”.


"Demikianlah cintanya kepada nyawa hamba, saat berpisah dengan badan hamba. Dari kehendak yang memiliki kehendak itu, maka ridhalah hamba akan kehendaknya ini. Kemudian hamba pun berpikir dalam hati, Oh, niscaya aku akan mati juga, karena terlihat muka aku menjadi pucat tidak seperti biasanya, dan berduka citalah hamba”.


“Sesaat kemudian terdengar suatu bunyi, katanya, ‘Kenalkah engkau terhadap siksaan orang durhaka, karena ia tidak beribadah kepada Allah Ta’ala Tuhan semesta alam (sebagaimana mestinya)’. Dan hamba lihat seorang laki-laki amat besar datang ke hadapan hamba. Kemudian ditikamnya dada hamba begitu sakitnya hamba merasakan hal demikian”.


"Tersentaklah diri hamba dan lemah lunglailah dirasakan. Selanjutnya didengar lagi suara, ‘Keluarkanlah nyawa orang yang durhaka ini’. Maka seluruh tubuh hamba terasa seperti bercerai-berai. Seluruh sendi-sendi tulang hamba terbaring di atas bantal. Ketika itu, anak isteri dan keluarga hamba begitu menangisi karena cintanya kepada hamba. Oh, aku ini akhirnya mati juga pada hari ini, saat ini telah datang ajalku”.


“Waktu itu, tidak ada seorang pun yang dapat menolong hamba, dan tidaklah dapat menyertai hamba. Hamba pun melihat seluruh anak isteri dan seluruh keluarga hamba Maka hamba melihat seluruh anak isteri dan keluarga hamba menangis dengan sangat berdukanya, karena sayangnya kepadaku”.


"Pada saat itu, tidak seorang pun dapat memberikan faedah dan manfaat kepada hamba, melainkan karena apa apa yang telah diberikan kepada para ulama dan fakir miskin dahulu itulah yang menolong hamba. Sedangkan apa-apa baik kenikmatan, makanan yang dimakan, pakaian yang terbuat dan emas yang dipakai dahulu, kini ia menjadi siksaan dan azab kepada hamba”.


"Kemudian datanglah Malaikat Maut kepada hamba dengan bunyinya yang berat. Kepala dan kakinya berada pada tujuh lapis langit hingga ke tujuh lapis bumi, serta sebelah sayapnya merupakan azab dan sayap lainnya adalah rahmat. Ketika itu, mukanya ada enam, ya Nabi Isa Ruhullah. Kesatu dari atas; kedua muka kanan; ketiga muka kiri; keempat di bagian depan; kelima di bagian belakang; dan keenam di bagian bawah."


Bertanyalah kembali Nabi Isa, "Hai Raja Jumjumah tengkorak kering, apa yang Anda pertanyakan kepada malaikat maut."


Jawab sang Raja, "Ada pertanyaan yang diajukan, yaitu, ‘Hai Malaikat, apa sebabnya mukamu itu ada enam. Sahut malaikat, Hai Raja Jumjumah, orang durhaka celaka. Ketahuilah olehmu, bahwasanya mukaku dari atas kerjanya mengambil nyawa seluruh nyawa anbiya. Mukaku dari depan, akan mengambil nyawa seluruh umat Nabi Muhammad SAW. Muka di bagian belakang berperan dalam mengambil nyawa orang-orang kafir. Mukaku di bagian kanan mengambil nyawa penghuni wilayah Masyrik dan sebelah kirinya mengambil nyawa penghuni wilayah Maghrib. Dan Mukaku di sebelah bawah mengambil nyawa segala jin dan setan”.


Nabi Isa mengajukan pertanyaan berikut, "Hai Raja Jumjumah, bagaimana kau merasakan kedatangan kematian?"


Raja Jumjumah berucap, "Ya Nabi Isa Ruhullah, pada satu waktu, datanglah Malaikat maut kepada hamba, la datang mengambil nyawa hamba. Lalu kulihat ia beserta dengan tiga puluh malaikat yang disuruhnya untuk memegang lidah hamba agar jangan menjerit akibat dari rasa takut yang dahsyat, dan mendengarkan suara mereka, tulang belulang hamba lemah lunglai rasanya. Jika para penghuni wilayah Maghrib mendengarkan suara itu yang seperti halilintar yang membelah. Demikianlah suaranya itu”.


"Selanjutnya, ketiga puluh malaikat tersebut diperintahkan oleh Allah untuk memegang kaki hamba agar jangan bergerak. Kemudian diperintahkan oleh Allah untuk melontarkan tembaga ke dada hamba yang kemudian hancur. Begitu sangat sakit dan panasnya terasa di dada hamba. Sekali lagi . diperintahkan oleh Allah Ta’ala seorang malaikat untuk memegang leher hamba serta dipakaikannya rantai dan belenggu pada leher hamba, dan dipakaikannya tali kekang terbuat dari api pada mulut hamba oleh malaikat, dan disiksanya hamba. Begitu menderita hamba akibat sakitnya itu, maka ucap hamba kepada malaikat yang menyiksa hamba,’lepaskanlah hamba dari siksa ini, sebagai upahnya akan kuberikan seluruh harta, anak isteri, segala budak hamba’.


“Setelah mendengar perkataan hamba tadi maka disapunya mulut hamba oleh Mala’katul Maut dan dirasakannya oleh seluruh anggota tubuh seperti hancur lebur rasanya. Malaikat itu berkata, ‘Hai orang durhaka yang celaka, ketahuilah olehmu bahwa kami ini bukan (akan) mengambil upah dari kamu, karena kami mengerjakan perintah dari Tuhan kami dengan sesungguhnya. Begitulah kami yang akan mengerjakan dengan sebenar-benarnya. Kami bukanlah seperti kamu manusia yang bersaksi dengan dusta dan bersumpah dengan tidak sebenarnya, dan meninggalkan perintah Allah Ta’ala, serta mengerjakan larangan-larangannya. Oleh karena itu, laknat Allah kepada kamu, dan azab Allah yang menyiksa dengan tiada berkesudahan hingga hari kiamat’."


Pertanyaan berikut yang dilontarkan oleh Nabi Isa, "Hai Raja Jumjumah, ketika nyawamu lepas, bagaimana kau merasakan rasa sakitnya, dan tatkala tubuhmu terlentang setelah ditinggalkan nyawanya, bagaimana juga rasa sakitnya?"


Dijawab oleh Raja Jumjumah, "Ya Nabi Isa Ruhullah, ketika nyawa hamba diambil oleh malaikat maut, beribu-ribu sakitnya dirasakan oleh hamba melebihi seperti ditikam dengan senjata, dan melebihi sakitnya daripada kambing hidup yang dikuliti, dan seperti kain yang teramat tipis lalu dimasukkan ke dalam air, kemudian dibuang ke atas duri-duri, setelah itu ditarik oleh pemilik kainnya, maka luluh lantaklah rasanya ketika nyawa hamba diambil oleh Malaikat Maut, dan setelah itu badan hamba merasakan sakitnya, ketika nyawa sudah diambil oleh Malaikat Maut, dan terbaringlah tubuh hamba di atas tikar. Apabila bergerak lantai rumah hamba, dirasakanlah kembali rasa sakitnya. Ketika diangkat untuk dimandikan oleh orang-orang, dan ketika digosok-gosok saat memandikan, hamba merasakannya begitu sakit. Setelah itu, dikafanilah hamba,

kemudian diangkat untuk dimasukkan ke dalam keranda. Sambil ditanggung, diantarlah ke kubur. Dimasukkanlah aku ke dalam liang lahat, lalu bergoncanglah tanah kuburnya, dan dirasakan oleh aku begitu sangat sakitnya dan pedih dirasakan seperti hancur lebur daging ini. Berpisahlah seluruh persendian tulang dan habislah tak tersisa hilang rasanya, ya Nabi Isa Ruhullah."


"Hai Raja Jumjumah, bagaimana rasanya ketika masuk ke bumi dan (mendengar) suara dari pertanyaan Munkar dan Nakir?" tanya Nabi Isa kembali.


Raja Jumjumah menyahut, "Ya Nabi Isa Ruhullah, setelah selesai hamba dikuburkan oleh jama’ah, kemudian datanglah dua malaikat, pertama bernama Munkar, dan yang kedua bernama Nakir yang diperintahkan oleh Allah untuk menanyai orang-orang di dalam kubur. Kemudian kata kedua malaikat tersebut kepada hamba. Hai orang durhaka yang celaka, tutiskan olehmu perbuatan yang telah engkau perbuat di dalam dunia, baik jahat maupun baik semuanya. Seluruhnya tuliskan olehmu; jangan kau sembunyikan, agar di hadirat Allah semuanya itu dibalas”.


"Kata hamba, untuk menulis itu, apa tintanya, kalamnya, dan kertasnya untuk hamba. Ujar Malaikat itu, ‘Hai orang durhaka yang celaka, sebagai tintanya adalah air mulutmu, kalamnya adalah telunjukmu, dan kertasnya itu adalah kain kafanmu. Maka seluruh perbuatanmu yang baik dan jahat; dosa besar dan dosa kecil seluruhnya tuliskan olehmu; segeralah kautuliskan. Mengapakah, hai orang durhaka yang celaka, dirimu diam, apakah itu keinginanmu?’. Oleh karenanya, ditulislah oleh hamba”.


"Dalam pikiran hamba mengatakan bahwa ternyata banyaklah dosa hamba, dan sedikit saja pahala hamba. Ah, tidak akan kutulis dosa-dosanya. Malaikat berkata. ‘Hai orang durhaka yang celaka, tuliskan seluruh dosamu yang kauperbuat. Dari dosa besar maupun dosa kecil jangan engkau sembunyikan. Selanjutnya hamba tuliskan semuanya baik jahat maupun baik. Kata hamba, ‘Wah, sekarang dosaku sangat banyak tidak terhitung lagi, ya Nabi Isa Ruhullah. Segala hal perbuatannya tidaklah dapat hamba katakan kepada tuan, melainkan Allah SWT juga yang amat mengetahuinya”.


"Tiba-tiba ada dua malaikat yang sangat hitam, amat tinggi dan besar seperti pohon kurma. Dari mulutnya keluar api yang menyala-nyala. Kemudian berkata kepada hamba, katanya, ‘Hai orang durhaka yang celaka, siapa Tuhanmu, siapa nabimu, apa agamamu, siapa imammu, apa kiblatmu, dan siapa saudaramu”?


"Lalu sahut hamba, ‘Engkaulah Tuhanku”.


"Setelah didengar jawaban tersebut oleh malaikat, ia sangat marah. Kemudian dipecut dengan cemetinya yang bercabang-cabang. Setiap cabangnya keluar api yang menyala. Kalau saja cemeti yang bercabang itu dipukulkan ke atas bumi ini, maka akan ratalah ia atau bukit pun akan rata dan terlihat hancur.


"Demikianlah, hamba dipukulnya, yang menyebabkan tubuh hamba hancur. Persendian-persendian tulang pun cerai-berai. Dagingnya juga hancur-lebur. ibarat awan yang ditiup angin kencang. Demikianlah rasanya; dipukul tiga kali berturut-turut. Malaikat berkata lagi, ‘Hai bumi, jepitlah orang durhaka yang celaka itu. Makanlah olehmu dagingnya sebagai suatu rejeki, karena ia orang yang durhaka kepada Allah Ta’ala’. Setelah itu, dijepitlah hamba oleh bumi. Habislah luluh lantaklah tubuh hamba, serta daging pun hancur tercerai-berai. Persendian-persendian tulang juga hancur-remuk. Ujar bumi, ‘Hai orang durhaka yang celaka, tatkala engkau tinggal di atasku. seluruh keinginanmu yang durhaka kaulakukan di atasku, seperti zina, dan lain-lainnya yang dilarang oleh Allah SWT”.


"Setelah dijepit oleh tanah tersebut, bumi berkata kembali, ‘Hai orang celaka yang durhaka, sekarang engkau masuk ke dalam perutku, maka akulah rupa yang buruk, dan akulah rumah yang berisi siksaaan akulah juga rumah yang berisi seluruh bau busuk dan anyir”.


"Selanjutnya, hamba melihat dua orang yang sangat hitam rupanya. Kepalanya sangat besar seperti bukit di negeri Syam. Kedua orang itu yang ternyata adalah malaikat, kemudian membawa hamba”.


"Setibanya di bawah ‘Arsy Allah Ta’ala, terdengarlah oleh hamba satu suara, yang mengatakan, ‘Hai Malaikat-Ku, bawalah orang durhaka yang celaka itu ke dalam neraka. Buanglah ia ke dalam siksa yang sangat menyiksa itu’. Kemudian hamba dibawa oleh malaikat itu ke neraka. Sesampainya di pintu neraka, hamba diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah, seraya mengatakan, Hai Malaikat Zabaniyah, masukkan orang yang celaka ini ke dalam neraka Siksalah dia dengan siksaan yang sangat menyiksa”.


"Setelah itu, hamba pun dimasukkan ke dalam neraka yang amat sangat menyiksa itu. Terlalu banyak macamnya siksaan dan azab yang hamba lihat. Hamba sering menangis dan mengerang menyaksikan keadaan siksa neraka itu. Ucap hamba, ‘Oh, siapa lagi yang hamba harapkan, dan siapa lagi yang akan mengasihi hamba. Oh, bagi hamba sangat diharamkan sekali-kali untuk berbuat dosa, seandainya hamba berada di dalam dunia hanya sesaat saja lamanya”.


"Pada waktu itu, hamba tidak mengetahui lagi bagaimana nasib hamba selanjutnya. Namun, kemudian hamba melihat empat buah kursi tersimpan di kanan dan kiri ‘Arsy Allah Ta’ala. Lalu hamba menanyakan kepada malaikat yang menyiksa hamba mengenai siapa yang mendapatkan anugerah Allah Ta’ala Al Karim itu. Jawab Malaikat, Adapun satu kursi itu adalah dianugerahklan kepada Nabi Muhammad Rasulullah. Satu kursi berikut adalah untuk Nabi Ibrahim khalilullah. Satu kursi lagi untuk Nabi Isa Ruhullah Dan satu kursi sisanya adalah bagi Nabi Musa Kalamullah”.


"Pada saat itu, hamba lihat seorang tua duduk di atas satu kursi dan dari hidungnya senantiasa keluar api. Beberapa malaikat diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk memasukkan orang tua itu ke dalam neraka, serta dirantai yang membelenggu dan tali. Setelah selesai menjalani segala macam siksaan, hamba lihat ia dibawa ke atas mimbar. Bawalah ia ke dalam neraka dan rantailah serta belenggulah dan kekanglah pada lehernya. Sesungguhnya orang ini durhaka yang celaka tidak mau menuruti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya’.


"Dalam menjalani siksaan, rambut hamba habis terlepas dari kulit. Tulang hamba pun hancur dan patah-patah. Bibir hamba seperti bukit Haliyah besarnya. Tubuh hamba besarnya seluas seperti jauhnya orang yang mengendarai kuda sembrani selama tiga hari tiga malam. Seperti jarak itulah besarnya. Jika orang lari dengan kuda sembrani yang sangat tangkas selama tiga hari tiga malam, maka tebal bibir atas bawahnya sama seperti itu. Hidung hamba pun seperti bukit besarnya. Sementara mata dan telinga menjadi hamba tuli”.


"Hamba juga dikenakan pakaian yang terbuat dari kulit api neraka. Di dalam baju itu terdapat macam-macam binatang, seperti ular, kalajengking, dan lipan yang tercipta dari api neraka. Jika saja binatang-binatang itu diturunkan ke bumi, maka seluruh isi bumi dapat ditutupi oleh karena besar tubuhnya. Dan dengan marahnya binatang-binatang itu menggigit tubuh hamba”.


"Awalnya perut hamba diikat dengan tali dari api neraka, dan diikatkan kepada satu pohon yang tercipta dari api neraka juga. Selanjutnya kaki hamba disimpan di atas. Sedangkan kepala disimpan di bawah, seperti orang yang digantung sungsang andai saja penghuni dunia menyaksikan penyiksaan itu, niscaya seluruhnya akan sangat terkejut dan takut karena kedahsyatan siksaan itu. Setelah selesai dari tempat ini, hamba dibawa kepada saksi lain. Kemudian diserahkanlah hamba kepada Malaikat Zabaniyah”.


"Hamba disuruh untuk memakai suatu sepatu terbuat dari api yang panjangnya sepuluh gaz (+110 meter) dan tingginya empat puluh gaz. Apabila dipakai ke kaki sepatu itu, maka timbullah rasa hangus di dalam dada dan sangat meruyak hingga serasa hancur lebur. Asapnya naik sampai ke otak hamba. Ya Nabi Isa Ruhullah, makanan hamba dari tembaga dan timah yang melebur”.


“Setelah selesai menjalani siksan di tempat ini, kemudian hamba dibawa ke satu bukit api neraka Hamba lihat beribu-ribu bukit dari api neraka. Di atas bukit-bukit itu, terdapat batu-batu dari api neraka juga. Ada pula pepohonan yang tercipta dari api neraka pula, serta binatang-binatangnya yang terbuat dan api neraka juga”.


"Pada satu bukitnya, terdapat siksaan beribu-ribu macam, dan beribu-ribu macam api. Terdapat pula sungai-sungai api yang airnya berasal dari tembaga, timah, dan besi yang telah melebur. Ada juga airnya yang berasal dari darah dan nanah yang berbau sangat anyir dan busuk.”


"Tiap-tiap sungai, airnya berputar-putar, dan bunyinya bagaikan guruh dan halilintar yang membelah angkasa. Demikianlah yang hamba dengar, terdengar hingga seribu tahun perjalanan manusia”.


“Ketika hamba sampai di atas bukit. Binatang-binatang itu disuruh oleh malaikat Zabaniyah menyiksa hamba beratus-ratus kali. Andai saja anak dari dari seekor ular di antaranya yang terjatuh ke bumi, maka hancurlah bumi karena bisanya”.


“Lalu hamba dibawa ke dalam sungai. Seluruh anggota badan dan persendian tulang rasanya seperti hancur lebur. Tiga ratus kali hamba digigit, kemudian di bawah bukit beribu-ribu siksaan dan azab Allah Ta’ala hamba rasakan lagi, dan tubuh hamba diikat dengan tali dan api dan dirantai yang terbuat dari api juga. Hamba pun diikatkan kepada sebuah pohon yang terbuat dari api neraka juga. Sedangkan rantai membelenggu hamba dan dililitkan pula kepada pohon itu. Hanguslah tubuh hamba dan hancurlah daging hamba rasanya”.


"Hamba sendiri ketika hidup kembali tidaklah ada bandingannya siksaan-siksaan yang telah dialami itu, ya Nabi Isa Ruhullah. Begitu menderitanya, hamba pun menangis dengan menjadi-jadi serta berseru-seru kepada Allah Azza wa Jala, ‘Ya Ilahi, Ya Robbi, Ya Saidi, Ya Maulayya, Ya Tuhanku, telah hanguslah segala tubuh hambamu dan hancur leburlah daging hamba, serta meluruh dari kulitnya hamba rasakan ya Tuhanku, perut hamba pun jadi melorot ke bawah, hingga hamba dapat duduk di atasnya’. Demikianlah seruan hamba ke hadirat Allah Ta’ala. ya Nabi Isa Ruhullah”.


"Hamba kemudian lihat banyak orang yang mendapat siksa, dan datanglah ular, kalajengking, dan lipan dari api menggigit mereka sama seperti yang menggigit tubuh hamba. Mereka pun meraung-raung karena terlalu sangat sakitnya. Dan menangis begitu memilukan. Hamba katakan, ‘Hai Malaikat Zabaniyah, apakah dosanya dari orang-orang itu hingga disiksa dengan yang demikian itu?”.


"Malaikat Zabaniyah menjawab, Hai orang durhaka yang celaka, ketahuilah olehmu bahwasanya orang itu tidak mau mandi junub serta tidak suci dirinya ketika ia pergi ke mesjid, demikianlah dosanya orang itu."


Raja Jumjumah berkata, "Ya Nabi Isa Ruhullah, hamba lihat orang-orang yang matanya dituangi dengan api yang menyala-nyala, la terbaring dan tergantung seraya berseru kepada Allah SWT. Hamba pun bertanya kepada Malaikat Zabaniyah, mengenai hal itu. la menjawab bahwa sesungguhnya orang itu ketika di dalam dunia sering mengintip aurat isteri orang lain, serta berusaha menggodanya.


"Ya Nabi Isa Ruhullah, hamba juga melihat seorang perempuan yang tengah muntah-muntah dengan lidahnya yang menjulur hingga ke kakinya. Dari mulutnya keluar nanah dan darah yang menggumpal-gurnpal. Kemudian disuapinya dengan daging dari api, serta digantung secara sungsang. Kepalanya di posisi bawah sedangkan kakinya berada di atas. Dan di bawahnya ada api yang menyala-nyala, la menyeru-nyeru dengan tangisannya yang sangat memilukan; suaranya begitu ramai menyayat. Hamba pun bertanya kepada Malaikat Zabaniyah, ‘Apakah dosa dari orang itu’? Malaikat menyahut, ‘Mereka itulah yang telah melakukan aborsi”.


“Sebagian yang hamba lihat lehernya tergantung pada rantai dari api yang menyala-nyala, dan hamba bertanya lagi kepada Malaikat Zabaniyah, Apa dosanya orang itu?’ ‘Orang itu tidaklah sekali-kali mau mengambil air untuk, sembahyang ketika hidupnya di dalam dunia’, ujar Malaikat Zabaniyah."


“Seluruh persendian hamba pun lemah dan letih rasanya. Tubuh hamba pun bergemetar, karena kedahsyatan dan ketakutan hamba menyaksikan azab Allah Ta’ala tersebut, ya Nabi Isa Ruhullah. Lalu hamba pun bertanya kepada Malaikat Zabaniyah, Siapa yang mandi dan siapa pula yang meminum air sungai tersebut? “


"Dijawab oleh Malaikat Zabaniyah, Hai orang durhaka yang celaka, adapun yang mandi dan minum air sungai itu adalah orang-orang yang disiksa di dalam neraka”.


"Ya Nabi Isa Ruhullah, hamba lihat di dalam neraka itu beribu-ribu selokan dari api neraka, dan dari selokan tersebut terdapat beribu-ribu rumah; dari satu rumah, terdapat beribu-ribu pintunya; dan dari satu pintunya, terdapat beribu-ribu bilik dan beribu-ribu bangku; dan dari satu bangku terdapat beribu-ribu ambalan; dan dari satu ambalan, terdapat beribu-ribu hamparan dan bantal dan beribu ribu azab Allah Ta’ala; dan seluruh siksaan tersebut, berasal dari api juga”


“Nabi Isa Ruhullah, hamba lihat di dalam neraka itu ada mahligai dari api dan pada satu mahligainya terdapat beribu-ribu pintu, dan pada satu pintu terdapat beribu-ribu bilik dan bangku; dan dari satu bangku terdapat beribu-ribu hamparan dan bantal. Bahwasanya pada tiap-tiap barang tersebut, kainnya berasal dari api neraka”.


"Ya Nabi Isa Ruhullah, hamba lihat di dalam neraka itu ada bermacam-macam

binatang, ada yang seperti gajah, kuda, singa, keledai, kalajengking, lipan, burung, babi, anjing, dan kucing. Seluruhnya berasal dari api yang bermacam-macam. Sesungguhnya seluruh binatang tersebut kerjanya adalah untuk menyiksa penghuni neraka”.


"Sesudah hamba merasakan dan melihat berbagai macam siksaan neraka, hamba dibawa oleh malaikat Zabaniyah ke atas bukit yang bernama bukit Sakuna. Sampai ke atas bukit tersebut dapat ditempuh oleh manusia biasa adalah selama 70.000 tahun. Dan terdapat 70.000 tempat pemberhentian. Terdapat pula 70.000 macam siksa di tempat itu, ya Nabi Isa Ruhullah”.


"Di bukit Sakuna terdapat 70.000 malaikat yang pekerjaannya adalah menghancurkan tembaga, timah, dan besi sebagai bahan untuk menyiksa orang yang tidak mau menuruti akan perintah Allah Ta’ala dan Rasul Nya, juga menyiksai hamba di bukit itu Hamba rasakan tidak ada sesuatu pun yang menyamai azab tersebut”.


"Ya Nabi Isa Ruhullah, seluruh siksaan yang ada di dalam dunia, tidak ada satu pun yang sama dengan siksaaan yang ada di akhirat. Di bukit itu hamba lihat dan hamba dengar, penuh dengan ular dan kalajengking, dan binatang-binatang buas isinya”.


Ucap Raja Jumjumah, "Ya Nabi Isa Ruhullah, adalah bermacam-macam siksaan yang hamba lihat yang tidak mungkin habis hamba ceritakan kepada tuanku mengenai siksaan itu. Setelah selesai hamba menjalani siksaan-siksaan, maka datanglah seorang malaikat untuk menyampaikan amanat dari Allah kepada Malaikat Zabaniyah bahwa Allah Ta’ala telah mengampuni dosaku. Allah Ta’ala telah menganugerahi kasihnya. Penyiksaan kepadaku dilakukan karena perintah Allah semata. Dan kini aku telah diampuni oleh Allah Ta’ala terhadap seluruh dosaku."


Nabi Isa berbicara, "Hai Raja Jumjumah, berbahagialah tuan telah begitu besar dianugerahi Allah SWT telah melepaskan azab. Sesungguhnya segala perbuatan jika tidak benar niatnya, maka sembahyang dan ibadahnya pun tidak akan memberinya manfaat apapun”.


"Hai Raja Jumjumah, ceritakanlah oleh Tuan seluruh siksaan yang telah dialami kepada orang-orang agar mereka menjadi takut dan bertobat setelah mendengarkannya."


Kata Raja Jumjumah, "Ya Nabi Isa ruhullah, tidaklah hamba dapat merasakan penderitaan lagi, dan tidaklah pula dapat menceritakan lagi mengenai siksaan siksaan dan azab Allah Ta’ala. Karena tuan adalah Ruhullah, hamba mohonkan kepada Allah SWT agar dapat hidup kembali dan masuk ke dalam perut ibu hamba supaya dapat berbakti ke hadirat Tuhan RobbulArsyil Azim, maka semoga dapat terlepas dari siksaan yang telah hamba rasakan, dan hamba telah

melihatnya juga. Akan tetapi terhadap kerajaan hamba, janganlah tuan mohonkan hamba untuk kembali lagi berkuasa."


Setelah Nabi Isa Ruhullah mendengar permohonan tersebut, ia segera mengambil segengggam tanah. Kemudian dibasuhkanlah kepada kepala tengkorak dan ditutupnya dengan kain putih.


Selanjutnya, Nabi Isa melaksanakan sholat dua rakaat. Lalu berdo’a kepada Allah agar keinginan dari Raja Jumjumah dapat terkabul. Allah SWT pun mengabulkan permohonan Rasul-Nya itu.

wallahu alam bissawab...

Semoga tulisan sederhana ini membawa banyak manfaat bagi yang membacanya. Segala kesalahan adalah dari saya pribadi, untuk itu saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya. Dan kebenaran itu mutlak milik Allah Azza Wa Jalla...Wallahu Musta'an

Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ila ha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika

Kamis, 23 Juni 2011

6 Jawaban BIJAK

Seorang Guru berkumpul dgn murid-muridnya, lalu beliau mengajukan 6 pertanyaan :



Pertanyaan 1 : Apa yg PALING DEKAT dgn diri kita di dunia ini ?

Muridnya ada yg menjawab : "orang tua", "guru", "teman", "kerabatnya".

Yg paling dekat dgn kita adalah "kematian". Sebab kematian adalah PASTI adanya...



Pertanyaan 2 : Apa yg PALING JAUH dari diri kita di dunia ini ?

Muridnya ada yg menjawab : "negara Cina", "bulan", "matahari".

Yg paling benar adalah “masa lalu". Siapa pun kita, bagaimana pun kita dan betapa kayanya kita... tetap kita TIDAK bisa kembali ke masa lalu. Sebab itu kita hrs menjaga hari ini, hari2 yg akan datang...



Pertanyaan 3 : Apa yg PALING BESAR di dunia ini ?

Muridnya ada yg menjawab "gunung", "bumi", "matahari".

Yg plg besar dr yg ada di dunia ini adalah"nafsu"... Banyak manusia menjadi celaka krn menuruti hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi karena itu kita hrs hati2 dgn hawa nafsu ini...



Pertanyaan 4 : "Apa yg PALING BERAT di dunia ini ?".

Di antara muridnya ada yg menjawab : "baja", "besi", "gajah", ...

Yg paling berat adalah "memegang janji"...



Pertanyaan 5 : "Apa yg PALING RINGAN di dunia ini ?"

Ada yg menjawab "kapas","angin", "debu", "daun2an"

Yg paling ringan di dunia ini adalah"Meninggalkan Ibadah"...



Lalu pertanyaan 6 : "Apakah yg PALING TAJAM di dunia ini ?.

Muridnya menjawab dgn serentak... "Pedang !"

Yg paling tajam adalah "lidah manusia" karena melalui lidah, manusia dgn mudahnya menyakiti hati, melukai perasaan...



sumber: unknown

Jumat, 03 Juni 2011

KISAH SEBUAH CANGKIR


Sepasang kakek dan nenek sedang berada di toko souvenir untuk

mencari hadiah bagi ulang tahun cucunya yang tercinta. Kemudian mata

mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang sangat cantik. " Lihat

cangkir itu", kata si nenek pada suaminya. "Kau benar, ini adalah

cangkir tercantik yang pernah aku lihat!", ujar si kakek. Mereka

kemudian menjulurkan tangan untuk mengambil cangkir tersebut. Tepat

saat tangan mereka menyentuhnya si cangkir tiba-tiba berbicara :

" Terima kasih atas perhatiannya. Perlu kalian ketahui, aku dulunya

tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi orang, aku hanyalah

seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari, ada seorang

perajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda yang berputar."

" Aku berteriak-teriak karena pusing. :Stop! .. Stop! .. Aku

berteriak, tetapi orang itu berkata, "Belum !!" Lalu ia mulai menyodok

dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop! Teriakku lagi, tapi orang ini

tidak menghiraukanku serta masih saja meninjuku, menekan-nekan aku

dengan tangannya hingga kadang2 aku gepeng, kembung dan sebagainya.

Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalm perapian. Panas!!

Panas!! teriakku dengan keras. Stop!! Cukup!! Teriakku lagi."

"Orang itu tidak menghiraukan penderitaanku. Akhirnya, ia mengangkat

aku dari perapian itu dan membiarkan aku menjadi dingin. Aku pikir,

inilah akhir penderitaanku. Tapi ternyata ... !!! Belum .. !!! AKu

diberikan kepada seorang wanita yang memberikan warna kepada seluruh

tubuhku. Bahan pewarna berbau menusuk dan sangat lengket sehingga

membuatku sangat tersiksa. Stop! Stop! Aku berteriak dengan putus asa.

" Belum !!", kata wanita itu, bahkan kemudian aku diberikan kepada

seorang pria yang kembali memasukkan aku ke dalam api yang panas dan

membakar!! Bahkan lebih panas dari api yg sebelumnya. Tolong !!

Hentikan penyiksaan ini !! Sambil menangis aku berteriak sekuat2nya.

Namun orang tersebut tetap membakarku, hingga lama kemudian baru aku

diangkat dari api dan dibiarkan dingin dan membeku !!

Setelah benar2 dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan

menempatkan aku dekat kaca. Aku kemudian dapat melihat diriku. Aku

terkehut sekali !!! Aku hampir tidak percaya dengan apa yg kulihat,

karena dari pantulan kaca aku melihat diriku sebagai sebuah cangkir

yang sangat cantik !!! Semua penderitaan dan kesakitan yang aku derita

selama ini seakan-akan sirna, hilang tanpa bekas !! "

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Sahabatku, ....

Seperti itulah Tuhan Yang Maha Kuasa membentuk kita. Pada saat Dia

membentuk kita tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan dan

banyak air mata. Tetapi, itulah cara mengubah kita agar menjadi cantik

dan memancarkan kemuliaan-Nya.

Sahabatku,

Anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh ke dalam

berbagai cobaan, sebab Anda tau, bahwa ujian menghasilkan ketekunan.

Dan biarkanlah ketekunan itu memperolah buah yang matang supaya Anda

menjadi sempurna, utuh dan tak kekurangan suatu apapun. Apabila Anda

menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati karena Tuhan sedang membentuk

anda, walaupun pembentukan2 itu menyakitkan, tetapi setelah melalui

semua proses, Anda akan melihat bahwa Anda bisa lebih cantik dari

cantik yang tercantik sekalipun !!

Keep Your Faith To The God .... ! No else !

sumber: unknown

12 kata "jangan" yang perlu dihindari

1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan...

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, †âÞi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

" Apa yang kamu tanam itulah yg akan kamu tuai "


sumber: http://www.facebook.com/notes/setitik-embun-inspirasi/12-kata-jangan-yg-perlu-dihindari-/10150195918821218

Minggu, 15 Mei 2011

Percakapan antara pensil dan penghapus.


Percakapan antara pinsil dan penghapus yang mengandung banyak pesan.

Pensil : Maafkan aku, aku telah membuat kesalahan lagi

Penghapus : Tidak apa- apa sayangku, kamu tidak melakukan suatu keburukan yang aku tak bisa memperbaikinya

Pensil : Aku minta maaf, dimanapun aku berbuat kesalahan, kamu selalu ada untuk memperbaikinya. Disetiap kau memperbaikiku dengan menghapus keburukanku, kamu menjadi kehilangan bagian dari tubuhmu. Hal ini membuatmu semakin lama semakin kecil.

Penghapus : Itu benar, tapi itu tidak masalah. Lihatlah aku, aku dibuat untuk melakukan hal ini. Aku dibuat untuk menolongmu ketika kau melakukan suatu kesalahan. Aku ingin kau selalu benar.

Pensil : Aku bahagia karena kau selalu ada untuk mengoreksiku. Aku tidak tahu, apa yang bisa aku lakukan tanpamu.

Penghapus : Aku tahu, suatu hari nanti aku akan pergi untuk selamanya. Dan kamu harus mencari pengganti aku. Sesungguhnya aku sangat bahagia bersamamu dan aku benar – benar bahagia terhadap pekerjaanku. Jadi berhentilah merasa cemas. Aku tidak suka melihatmu bersedih. Aku berharap kamu dapat secepatnya belajar seperti aku, tanpa harus membutuhkan aku lagi.

Aku menemukan manfaat dari percakapan antara pensil dan penghapus ini sangat menginspirasi diriku. Orang tua seperti penghapus dan seorang anaklah pensilnya. Orang tua selalu ada untuk buah hatinya, membersihkan kesalahannya, dan mendidiknya agar dapat mengoreksi dirinya sendiri. Suatu saat, mereka terluka, mengalami penurunan, menjadi tua, rapuh, kemudian meninggal. Orang tua menydari bahwa dikemudian hari anaknya akan menemukan pasangan hidupnya, untuk kemudian bahagia mengajar anaknya – anaknya. Mereka tidak suka melihat anaknya yang berharga merasa cemas dan sedih. Mereka berharap anak – anaknya dapat bekerja dengan baik untuk membuat sesuatu yang berguna di dunia ini. Tulisan ini untuk para orang tua dan juga anak – anak yang dicintainya yang mana ingin berusaha keras membuat sesuatu yang berguna bagi dunia ini. Sebagai seorang anak, kita tidak pernah tahu bagaimana cinta orang tua kita, sebelum kita merasakan menjadi orang tua.


~tulisan ukhti di bumi Afghanistan_farzana_~

~alih bahasa : Bidadari Timur~