Laman

Tampilkan postingan dengan label all about love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label all about love. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Agustus 2012

Tahu kah kalian semua?

Assalamualaikum apa kabar semua?? tahukah kalian?
Kenapa Wanita perlu taat kepada suami.
Setelah itu baru kepada bapak dan ibunya
Tapi tahukah, bahwa lelaki wajib taat kepada Ibunya 3x lebih utama dari pada kepada bapaknya.

Wanita menerima warisan lebih sedikit daripd Lelaki.
Tapi tahukah bahwa harta itu menjadi milik pribadinya & tidak perlu diserahkan kpd Suaminya, sementara apabila Lelaki menerima warisan, Ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk Isteri dan anak-anaknya..

Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak.
Tapi tahukah bahwa setiap saat wanita didoakan oleh segala umat, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini.. Serta jika ia mati karena melahirkan adalah Syahid, niscaya Surga akan menantinya.

Di akhirat kelak, seorang lelaki akan mpertanggung jawabkan 4 wanita, yaitu:
1. Isterinya
2. Ibunya
3. Anak Perempuannya dan
4. Saudara Perempuannya

Artinya: bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu:
1. Suaminya
2. Ayahnya
3. Anak Lelakinya dan
4. Saudara Lelakinya

Seorang wanita boleh memasuki pintu surga melalui pintu surga yang mana saja yang disukainya. 3 pilihannya yaitu :
1. Sholat 5 waktu
2. Puasa di bulan Ramadhan
3. Taat kepada Suaminya

Seorang lelaki wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata..

Di kirim khusus kepada wanita soleha agar senantiasa:
♥ Bersabar saat tertekan
♥ Tersenyum di saat hati menangis
♥ Diam saat terhina
♥ Mempesona karena memaafkan
♥ Mengasihi tanpa pamrih
♥ Bertambah kuat di dlm doa dan pengharapan..

Serta dikirim untuk laki2 agar senantiasa mencintai Isterinya, Ibunya, Anak Perempuannya dan Saudara Perempuannya juga.... :)
 


disadur dari : Ust Yaqub Ahmadi

Selasa, 08 Maret 2011

Mawar kehidupan


Mawar indah berseri

Menikmati hari mati

Oh indah sejuk permai

Melihat kau duduk termenung sendiri

Melintas dalam otakku kau kasihi

Kabut biru dalam mataku

Melihat kau dalam bayang semu

Sederet mawar dihadapanku

Melihat kau hatiku pilu

Kelopak merahmu melintang dalam lantunan cinta

Duri tajammu melingkar bagai asa

Daun berguguran, rasa sayup didepan mata

Hatiku perih saat kau bang muka

_suharti hikmayani (ummu asiah)-

10 mei 2010

Senin, 07 Maret 2011

Ada Cinta di Sekolah…

Sobat muda muslim, ngomongin soal cinta, nuansanya bisa berwarna-warni. Apalagi kalo yang ngomongin adalah anak sekolah seusia kita. Bisa tambah heboh sekaligus menggelikan. Lho, kok bisa? Maklum, biasanya teman remaja suka malu-malu kucing. Sebab jatuh cinta pertama kali adalah pengalaman yang mendebarkan. Soalnya, emang seru sih. Tul nggak?

Nah, rupanya di sinilah serunya urusan cinta anak sekolah. Selain karena masih pemula dalam masalah cinta, juga karena persoalan kesiapan mental. Maklum saja, baru lepas dari masa kanak-kanak beranjak dewasa. Itulah remaja. Pengennya nggak disebut anak kecil lagi. Itu sebabnya, untuk bisa lepas dari predikat bocah cilik, biasanya teman remaja suka melakukan banyak hal, termasuk dalam urusan cinta, yang katanya salah satu ciri anak remaja. Tapi sayangnya, dari segi mental masih belum mapan. Artinya kadang masih merasa sebagai anak kecil. Cirinya apa? Biasanya teman remaja merasa jangan disalahkan bila berbuat sesuatu. Anggaplah itu sebagai sebuah 'kesalahan' kecil yang wajar dilakukan. Walah?

Termasuk dalam urusan cinta ini. Nggak heran kalo ada anak puteri yang suka ngumpet-ngumpet alias backstreet bareng gebetannya karena takut ketahuan sang ortu. Satu sisi pengen disebut udah dewasa, dengan menjalin hubungan cinta dengan sang kekasih, tapi di satu sisi lagi, doi nggak mau disalahkan juga. Itu sebabnya, doi melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Takut direcokin sama ortunya. Berbahaya memang!

Mewujudkan cinta Hmm… ini yang paling greng dan favorit untuk dibicarakan. Bukan apa-apa, rasanya cinta yang hadir dalam diri kita kagak bakalan seru kalo nggak berusaha untuk diwujudkan. Artinya, kalo cinta cuma mampir di hati, bikin jantung berdetak dua kali lebih kenceng, dada kita terasa bergolak oleh panasnya api cinta, itu belum seberapa dahsyat. Kenapa? Sebab, bagi sebagian teman remaja, biar oke kudu diwujudkan dalam bentuk aktivitas yang lebih kreatif. Yang paling mudah adalah pacaran. Nah lho?

Sobat muda muslim, pacaran sebagai perwujudan dari rasa cinta sering dianggap mendatangkan berkah. Berdasarkan desas-desus teman sekelas yang dulu pernah aktif, pacaran juga sebagai ajang sharing, alias berbagi. Coba deh kamu lihat teman kamu yang getol pacarannya, biasanya suka berbagi cerita, pengalaman, masalah, termasuk mungkin berbagi utang (he…he…, kayaknya yang ini mah jarang diungkap. Malu dong).

Yup, pacaran seringkali dianggap harus dijalani karena diyakini sebagai cara ampuh untuk berbagi cerita di antara dua lawan jenis ini. Katanya sih, cita-cita mulianya kepingin bisa menyelami siapa jati diri pasangannya. Itu sebabnya, banyak teman remaja yang merasa wajib melakukan pacaran. Berbahaya! Padahal, itu cuma alasan aja. Klise lagi. Biar disebut legal aja hubungan gelapnya itu. Pacaran hubungan gelap? Betul, sebab itu udah termasuk gaul bebas. Hati-hati lho!

Sabtu, 01 Mei 2010

Pengantin Surga


Saat itu kudengar namamu disebut oleh malaikat dalam mimpi,
Kau adalah pengantin abadiku.
Kuterbangun dari mimpi,
Kutemukan dirimu menantiku di ujung jalan,
Dengan sekeranjang batu dari surga….

“Maa syaa Allah! Sepagi ini sudah dimulai? Keterlaluan!” Asma’ tergopoh menuju ruang tengah, melihat situasi di jalanan depan rumahnya. Ia menggigit bibir, menahan perih dalam hatinya. Memikirkan anak-anak didiknya di masjid samping rumahnya. Bagaimana hafalan mereka, sudah sampai juz berapa.

Asma’ terkejut saat pundaknya ditepuk oleh adik lelakinya. Usia mereka terpaut dua tahun. Asma’ adalah gadis tujuh belas tahun.

“Hai Asma’! Apa yang kaulakukan di sini. Sudah lewat waktu dluha tetapi kau masih diam saja. Bagaimana murid-muridmu!”

Asma’ tersentak. Ia merasa diingatkan, seharusnya ia mengurusi murid-muridnya, bukannya malah terbengong saja melihat pemandangan biasa di luar rumah. Ya, hari ini, Israel kembali menyerang Gaza untuk ke sekian kalinya. Nampaknya pemboikotan sudah tak begitu mempan bagi warga Gaza, mereka tetap bertahan. Mempertahankan bumi yang di dalamnya terletak masjid yang disebut dalam al-Qur’an surat al-Isra.

“Kau benar wahai Firaz! Baiklah aku akan segera menemui murid-muridku!” tak lama kemudian, Asma’ masuk ke kamarnya, mengenakan cadar lantas melangkah keluar rumah dengan lapang. Sesekali terdengar dentuman senjata-senjata Israel, namun itu tak menyurutkan langkahnya menemui murid-muridnya di masjid seperti biasanya.

Anak-anak kecil usia lima sampai sepuluh tahun berbaris menantinya di teras masjid—yang bangunannya sudah tak utuh lagi—menanti Asma’ sang guru. Di wajah mereka tampak semburat sinar keperkasaan tanpa sedikitpun rasa takut. Asma’ telah menanamkan benih-benih keberanian dalam jiwa-jiwa mereka, sehingga tatkala Asma’ menghampiri mereka, berebut satu persatu dari anak-anak kecil itu berteriak, “Ummi kapan kita berperang!”
“Ummi, kita harus mempertahankan tanah kaum Muslimin ini…” “Tak adakah Ummi, saudara kita dari negeri-negeri kaum Muslimin lainnya yang mendengar teriakan kita meminta bantuan?”

Asma’ menitikkan airmata di balik cadarnya, ia begitu terharu mendengar permintaan murid-muridnya untuk berjihad melawan kafir penjajah. Mereka masih sangat muda, namun pemikirannya sudah sangat jauh melesat melebihi anak-anak lain seusia mereka. Perang dan kematian bukan lagi menjadi sesuatu yang menakutkan. Asma’ sering menceritakan, bahwa jiwa para syuhada itu akan terus hidup dan masuk surga atas izin Allah. Jika kita menolong agama Allah maka Allah akan menolong kita dan meneguhkan kedudukan kita.

“Ummi….Ummi…….!!!” teriak mereka. Asma’ lalu mengajak mereka masuk ke masjid, menenangkan mereka semuanya yang jumlahnya selalu tak pernah berkurang justru semakin bertambah. Sepuluh orang kini.

“Dengarkan Ummi. Meski jumlah kalian sepuluh orang, Allah akan melipatgandakannya menjadi ratusan bahkan ribuan sehingga kafir penjajah itu akan kewalahan menghadapi kalian.”

Kata-kata itu semakin mengobarkan semangat jihad mereka. Asma’ kemudian mengecek hafalan mereka. Yang paling besar, Umar, paling pendiam di antara semuanya sudah hafal 30 juz. Dua hari yang lalu ia membacakan seluruh isi Al-Qur’an dan kini ia hanya ingin segera keluar masjid untuk melawan Israel. Usianya, sembilan tahun.

***
Di tengah kesunyian sepertiga malam, Asma’ menemui Allah. Airmata tak henti-henti mengucur dari sumbernya, ribuan kali ia berdoa agar kaum Muslimin dapat memenangkan peperangan dengan kafir penjajah itu. Tubuhnya semakin kurus sebab makanan pokok sudah sangat susah didapatkan. Harus sembunyi-sembunyi melewati lorong-lorong ke Mesir yang kini perbatasan Jalur Gaza-Mesir diblokade oleh pemerintah Mesir. Ya Allah, di manakah saudara-saudara kami? Di manakah bagian tubuh kami, apakah mereka tak merasakan sakit seperti yang kami rasakan? Ya Allah, sudah matikah hati mereka sehingga tak dapat lagi merasakan perih pada salah satu anggota tubuhnya? Atau mata mereka telah buta sehingga tak dapat melihat pembantaian ini? Ataukah telinga mereka tuli sehingga tak dapat mendengar jerit tangis kami? Apakah tangan mereka telah lumpuh sehingga tak dapat mengulurkan tangan menolong kami? Ya Allah….apakah kaki mereka telah patah sehingga tak dapat berlari menyongsong kami? Di mana mereka? Kelak hanya kepada-Mulah kami kan mengadu di Hari Pembalasan, di sana keadilan kan ditegakkan. Ya Allah…Engkaulah pemilik masjid al-Aqsha maka Engkau pulalah yang akan menjaganya….

“Wahai Asma’!” Firaz telah berdiri di sampingnya. “Mengapa engkau menangis?” “Hai Firaz! Tidak bolehkah aku menangis di hadapan kekasihku?” Firaz yang masih sangat belia itu lalu menceritakan pengalaman ia sehari ini melempari tentara Israel dengan batu-batu tajam. Seorang tentara yang lengah terkena dahinya sehingga darah mengucur deras dan paniklah ia. Itu mengacaukan laju tank mereka, membuat Firaz dan teman-temannya semakin semangat melempari mereka dengan batu.

“Asma’, sudah siapkah engkau menikah?”

Asma’ tentu saja kaget mendengar pertanyaan itu. Ia belum sempat memikirkan masalah itu. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya murid-muridnya bisa menjadi mujahid-mujahidah pemberani tanpa rasa takut sedikitpun. Menikah baginya adalah suatu gambaran mimpi yang sulit untuk diwujudkan. Dengan siapakah ia akan menikah, ia tak tahu.

“Menikahlah Asma’! Aku akan menjadi walimu.”

Asma’ teringat Ayahnya yang tewas dibantai tentara Israel sepuluh tahun lalu ketika ia masih kecil. Sedangkan ibunya sudah syahidah ketika melahirkan Firaz. Mereka kini hidup sebatangkara.

Sinar mata Firaz begitu tajam, menghujamkan keyakinan di hati Asma’. Menikah? Dengan siapa?

“Kau akan kunikahkan dengan sahabatku, Abdurrahman namanya. Dia penembak jitu. Setiap batu yang ia lemparkan, nyaris selalu tepat mengenai tentara Israel. Dia kuridhoi agama dan akhlaknya. Insya Allah dia akan menjadi ayah bagi para mujahidmu. Bersamanya, kau akan ke surga, Insya Allah. Menikahlah Asma’, sesungguhnya aku ingin sekali melihatmu bahagia. Kita harus mempersiapkan banyak mujahid agar bisa melanjutkan perjuangan kita…” kini Firaz menepuk pundak Asma’.

Asma’ hanya diam. Seakan-akan ia pernah mendengar nama yang tadi Firaz sebutkan, namun entah di mana. Hanya sayup-sayup…

Firaz tersenyum, “Diammu adalah persetujuanmu.”
***

Tiga hari lagi pernikahan akan dilangsungkan. Asma’ telah membuat sebuah baju pengantin dengan tangannya sendiri. Sejauh ini ia belum pernah bertemu dengan Abdurrahman. Lelaki itu, bersama adiknya selalu berangkat pagi untuk melawan tentara Israel dan pulang tengah malam dengan hasil yang luar biasa. Banyak tentara Israel yang terluka oleh batu-batu yang dilemparkan mereka.

Menanti mujahidnya itu datang, Asma’ senantiasa bersabar mendengar kabar yang menyedihkan sekaligus membahagiakan. Satu persatu murid-muridnya berkurang karena mereka menjadi syuhada perang. Termasuk Umar, pagi tadi ia ditemukan dalam kondisi tubuh terkoyak karena jenazah yang sudah ditembak tentara Israel dimakan oleh anjing-anjing mereka. Airmata Asma’ menetes haru. Kini, semakin sedikitlah muridnya, mereka yang sudah menghafal al-Qur’an dalam usia dini, gugur sebagai syuhada. Maka hari bahagia itu pun datanglah. Asma’ duduk di dalam kamarnya sementara di masjid sedang dilangsungkan akad nikah. Berarti, pagi ini Abdurrahman tidak melempari tentara Israel dengan batu. Berdebar hati Asma’ menanti kedatangannya, yang belum pernah dilihatnya tetapi jika ia sudah mengetuk pintu, artinya dia adalah seorang lelaki yang harus ia cium tangannya. Harus ia patuhi sepenuh hati. Dan dialah Khalifah rumah tangganya.

Waktu terus merayap, hingga waktu dluha telah habis namun pengantinnya tak kunjung mengetuk pintu kamarnya. Lama sekali….

Hingga ahirnya pintu diketuk, Asma’ membukanya ternyata Firaz datang dengan kepala menunduk. Tangan kanannya memegangi perut bagian kirinya “Hai Asma…” suaranya lirih.

Asma’ menahan nafas, menanti kalimat Firaz selanjutnya. “Katakan wahai Firaz!”

“Abdurrahman sudah menjadi suamimu…”

Asma’ mengucap hamdalah.

“Akan tetapi….Allah telah memintanya darimu. Apakah engkau ridho? Selepas akad nikah tadi, dengan ganas tentara Israel masuk dan menembaki siapapun yang ada di masjid. Aku pun…. ah….” ia roboh ke lantai. Tangan kanannya terlepas dari perutnya yang mengucurkan darah segar.

“Masya Allah!” Asma’ merangkul saudaranya, sehingga penuh darahlah baju pengantinnya yang putih dan bersih itu. Rupanya Firaz masih mampu berlari menuju Asma’ untuk memberitahukan kabar gembira bahwa Abdurrahman telah menjadi suami Asma’.

“Laa ilaaha illallah…Muhammad Rasulullah….Allahu Akbar…..” tak lama kemudian, mata Firaz terpejam dengan tenang.

Belum sempat bagi Asma’ untuk menangis, ia melihat dua tentara Israel mendobrak paksa pintu rumahnya. Melihat Asma’ begitu anggun tanpa cadar, membuat dua tentara bengis itu terbakar nafsu hendak menodai pengantin itu. Asma’ begitu marah, hingga rasanya ia ingin balas menyiksa tentara Israel tersebut. Mereka telah membunuh seluruh keluarganya, termasuk suami yang belum pernah dilihat sekalipun wajahnya. Beberapa bongkah batu di dekat Asma’ seakan berbicara padanya, “ambil aku! Lemparkan aku pada mereka, biarkan aku yang menerkamnya atas izin Allah!”.

Asma’ pun meraihnya dan melemparlan tepat di kening seorang tentara. Ia panik. Darah mengucur di wajahnya. Lalu seorang lagi ia lempar dengan batu yang lain hingga keadaannya sama seperti temannya. Mereka meraung. Asma’ segera keluar rumah dengan berlari, ia ingin ke masjid menemui jasad suaminya. Ia ingin mencium tangannya untuk pertama dan terakhir meski dalam keadaan tak bernyawa. Ia terus berlari… Namun, sebelum Asma’ bertemu dengan suaminya di masjid itu, seorang tentara Israel yang sedang berkeliaran di jalan menembaknya dari belakang.

Benda tajam rasanya memotong-motong seluruh tubuhnya. Lama kelamaan ia lemas dan pengantin itu pun roboh ke tanah, sedikit lagi saja untuk sampai ke masjid.

Sebelum nafas terakhirnya terhembus, sebelum dua kalimat syahadat ia senandungkan, ia melihat Abdurrahman untuk pertama kalinya sedang tersenyum padanya dan mengajaknya berjalan berdua. Hanya berdua.[yN]

kutipan: islamuda.com

Selasa, 06 April 2010

"Ya Allah Aku Jatuh Cinta"

Ya Allah, yang membolak balikan hati Kami...
Selama ini aku tidak pernah tau
Bagaimana rasanya mencinta
Namun, aku berharap
Bila cinta hadir menyapaku
Aku tidak akan kehilangan EngkauYa Allah, selama ini aku hanya berharap
Semoga bisa mencintai
Orang yang memiliki cinta yang luar biasa kepada-Mu

Ya Allah, selama ini aku juga berharap
Semoga bisa dicintai
Oleh orang yang bisa mengarahkanku
Menuju keridhaan-Mu

Pintaku Ya Allah,
Izinkan aku memiliki rasa ini
Hingga ia menjadi indah di dada kami
Tanpa mengurangi rasa cinta kami kepada-Mu...

Kutipan:"Ya Allah Aku Jatuh Cinta"